google-site-verification=UZOJzgQVIWen0hhmMkzbFt_zhpkperI9dij4XvLIaW8 Ketika hati terdorong untuk berdusta google-site-verification=UZOJzgQVIWen0hhmMkzbFt_zhpkperI9dij4XvLIaW8 google-site-verification=UZOJzgQVIWen0hhmMkzbFt_zhpkperI9dij4XvLIaW8

12 Agustus 2010

Home » » Ketika hati terdorong untuk berdusta

Ketika hati terdorong untuk berdusta



Kenapa kita mesti berdusta, jika jujur itu terasa lebih nikmat dan nyaman? kenapa kita harus bersusah payah mengarang dan mencari alasan yang dibuat dan direkayasa hanya sekedar untuk dan demi menyelamatkan sesuatu yang sebenarnya tidak terlalu penting dan berharga? kenapa kita harus berbohong?
Alasan kenapa kita berbohong, dan kenapa kita harus berpayah-payah mencari dan membuat dalil baru untuk di jadikan alasan adalah karena kita takut perbuatan kita akan di ketahui oleh orang lain. Atau laku kita yang kurang terpuji akan diketahui oleh keluarga kita; orang tua, mertua, istri, anak dan saudara-saudara kita. Karena alasan tersebutlah kita berbohong dan berdusta. Dengan melakukan bohong maka beres sudah semua persoalan. Dan begitu seterusnya..sehingga tanpa kita sadari file bohong kita sudah memanjang bak lajur kereta saja nampaknya. Kenapa? karena secara otomatis, ketika kita sudah menjatuhkan pilihan untuk berbohong, maka bohong bohong yang lain akan mengikuti di belakangnya. Dan itu pasti.

Kebiasaan berbohong yang sudah tertanam sejak kecil,apakah itu pengaruh didikan orang tua atau nasehat menyesatkan yang sering kita dengar bahwa; bohong tidak apa - apa jika untuk sebuah kebaikan. Atau,... jika kita tidak tahu harus bagaimana, dan jika tidak begitu maka nyawa kita akan melayang, maka bohong merupakan kata wajib yang harus kita terapkan... Wasiat itulah yang kemudian mengakar pada hati kecil kita. Kalimat warisan yang diberikan oleh orang tua atau guru kita kini menjadi judgement atau statement pembenaran kita untuk melakukan kebohongan. Sadarkah kita bahwa, serapih-rapihnya kita menyimpan bangkai, suatu saat bau'nya akan tercium juga? dan sepandai pandai kita berkelit lidah, suatu saat..Tuhan akan menunjukkan kesalahan kita kepada orang lain sehingga terbongkarlah aib kita. Dan tidak ada sesuatu yang paling memalukan serta menyakitkan dari terbongkarnya aib kita kepada keluarga kita dan orang lain, tapi tak bisa di kata lain lagi, karena semua itu merupakan akumulasi dosa yang harus kita tebus, kecuali kita ingin agar semua itu menjadi sekam pembakar di neraka nanti.

Mulai sekarang, marilah kita berusaha untuk mengatakan apa adanya. Merah kita katakan merah, dan jika putih kita katakan yang sebenarnya. Kenapa harus berat? jika ucapan yang sebenarnya terasa sakit dan pahit , tentu akan lebih sakit dan pahit lagi andai kebohongan kita terbongkar dan di ketahui belakangan.

Related Post



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Tulis Komentar anda di sini

Related Posts with Thumbnails
Loading