google-site-verification=UZOJzgQVIWen0hhmMkzbFt_zhpkperI9dij4XvLIaW8 35 Jam yang lalu Katanya Aku Sudah Mati google-site-verification=UZOJzgQVIWen0hhmMkzbFt_zhpkperI9dij4XvLIaW8 google-site-verification=UZOJzgQVIWen0hhmMkzbFt_zhpkperI9dij4XvLIaW8

08 Agustus 2010

Home » » 35 Jam yang lalu Katanya Aku Sudah Mati

35 Jam yang lalu Katanya Aku Sudah Mati



Tak ada yang ku ingat lagi, kecuali tangis yang memenuhi ruang dimana untuk pertama kalinya aku tersadar dan terbangun. Pelukan erat dari orang tuaku, yang kemudian disusul oleh istri dan anak-anaku sambil menumpahkan semua air mata dan jerit yang entah harus aku katakan seperti apa. Tapi semua itu belum cukup untuk menyadarkan angan-angan dan pikiran warasku. Dalam ketidakmengertian yang tidak di mengerti oleh mereka, aku terus mencari jawab dari peristiwa tersebut. Beberapa orang terlihat berkerumun disekelilingku sambil berusaha mengembalikan akal sehatku dengan berbagai do'a - do'a yang dibaca dari dari seribu mulut komat-kamit di depanku. Dan beberapa saat setelah itu, kemudian aku tak ingat apa-apa lagi, demikian juga dengan mereka yang baru saja mengelilingiku hilang lenyap entah kemana. Tak ada lagi suara yang kudegar kini, suara tangis orang tuaku, istri dan teman-teman dekatku yang aku dengar tadi, tiba-tiba hilang dan sepi.

Aku tidak tahu, siapa siapa aku dan di mana sekarang. Tiba-tiba saja aku terlempar di sebuah tempat yang asing, yang tidak pernah aku singgahi sebelumnya. Tapi di tempat itulah awal nya aku berada, sebelum aku tersadar dan mendengar suara tangis orang tua, istri dan anak-anakku di ruang tengah itu. Kini tiba-tiba kembali berada di sini lagi, setelah tangis dan ratap dari keluargaku menghilang dan sepi. Bentangan jalan panjang yang nampak tidak ada ujung, tegas membelah kanan kiri arena kosong. Ada beberapa kabut putih di depan, menutup ujung jalan pada batas titik pandanganku. Tak ada orang tempat aku bertanya. Seperti kota mati saja, lengang dan kosong.
Ringan langkahku, tak ada beban yang memberat. Dan aku baru mengetahuinya kemudian bahwa tak ada tanah yang kupijak dibawah. Atau memang,..mungkin karena aku yang melayang sehingga aku tidak menemukan tanah tempat aku berpijak dibawahku? yang jelas, seperti balon udara rasanya aku berjalan..di atasku langit mendung, tapi bukan mendung..ya, langitku berwarna hitam. Terus aku titi dan tapaki, jalan lurus yang membentang kaku dihadapanku..terus dan terus. tanpa teman. Tanpa kawan.



Entah dalam rentang waktu berapa lama aku berjalan, tapi belum juga sampai di ujung jalan itu. Aku ingin menangis, tapi tak ada air mata yang keluar. Demikian juga ketika aku berusaha menjerit sekuat-kuatnya, tak ada suara dari mulutku. Ketika itu lah samar-samar aku mendengar suara seseorang memanggil-manggil namaku. Aku kenal suara itu, ya, aku mengenalnya.. itulah suara ibuku..
"Ibuuuuuuuuu....." tiba-tiba suaraku keluar..dan..Ohh..seperti terlempar dengan keras..tiba-tiba aku sudah berada diantara suara-suara itu lagi..suara ibuku..suara istriku suara anak-anaku..dan beberapa tetangga yang mengerumuniku. seperti terjaga dari mimpi, lalu aku peluk ibuku, istri dan anak-anakku..aku tumpahkan air mataku sambil memeluk mereka..
Ya, Tuhan.. rupanya aku baru saja dibawa ke alam kematianku..


Related Post



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Tulis Komentar anda di sini

Related Posts with Thumbnails
Loading