google-site-verification=UZOJzgQVIWen0hhmMkzbFt_zhpkperI9dij4XvLIaW8 Benteng Digital google-site-verification=UZOJzgQVIWen0hhmMkzbFt_zhpkperI9dij4XvLIaW8 google-site-verification=UZOJzgQVIWen0hhmMkzbFt_zhpkperI9dij4XvLIaW8

06 Juli 2010

Home » » Benteng Digital

Benteng Digital



===============================
Judul asli:Fortress
Penulis : Dan Brown
Penerbit : Serambi
di terjemahkan oleh: Ferry Salim
Di tulis ulang oleh: usi2506
================================

Konon, dalam kematian, segalanya menjadi jelas.Sekarang Ensei Tankado tahu bahwa hal itu benar.Sambil mencengkeram dadanya dan terjatuh ke tanah kesakitan, lelaki itu menyadari kengerian akibat kesalahan yang dibuatnya. Orang-orang bermunculan dan berkerumun di sekitar Ensei Tankado. Mereka mencoba menolongnya. Tetapi Tankado tidak menginginkan pertolongan—sudah terlambat.Tankado gemetar, mengangkat tangan kirinya,dan mengulurkan jari-jarinya. Lihatlah tanganku! Wajah-wajah di sekitarnya menatap dirinya, tetapi dia tahu mereka tidak mengerti.Pada jari Tankado terdapat sebuah cincin emas berukir. Untuk sejenak, ukiran pada cincin itu berkilau di bawah matahari Andalusia. Ensei Tankado sadar bahwa itu adalah cahaya terakhir yang dia lihat.

MEREKA BERADA di Smoky Mountains, di penginapan favorit mereka. David sedang tersenyum pada Susan. "Apa pendapatmu, Manis Mau menikah denganku?" Sambil menengadah dari tempat tidur berkelambu mereka, Susan tahu bahwa Davidlah orangnya. Selamanya. Pada saat menatap ke dalam mata kekasihnya itu yang berwarna hijau tua, Susan mendengar bunyi lonceng yang memekakkan telinga di suatu tempat di kejauhan, dan pria itu pun menjauh. Susan berusaha menggapai David, tetapi tangannya hanya menggapai kekosongan.Dering teleponlah yang membuat Susan terbangun dari mimpinya. Dengan terengahengah dan terduduk di atas tempat tidur, wanita itu menggapai gagang teleponnya. "Halo?"

"Susan, ini David. Apakah aku telah membangunkanmu?" Susan tersenyum dan berguling di tempat tidurnya.
"Aku baru saja bermimpi tentang kamu.Kemarilah dan bermain David tertawa. "Di luar masih gelap.
"cinta denganku."


D I G I T A L FORTRESS 9

"Mmm." Susan mengerang dengan sensual.
"Kalau begitu kemarilah. Kita bisa main lebih lama sebelum berangkat."
David mendesah kecewa.
"Untuk itulah aku menelepon. Ini tentang perjalanan kita. Aku terpaksa menundanya." Susan mendadak tersadar sepenuhnya.
"Apa!"
"Aku sangat menyesal. Aku harus keluar kota. Aku akan kembali besok. Kemudian, kita bisa berangkat pagi-pagi sekali. Kita masih punya dua hari."
"Tapi aku sudah memesan kamar," kata Susan dengan
perasaan terluka. "Aku berhasil mendapatkan kamar yang
pernah kita tempati di Stone Manor."
"Aku tahu, tapi—"
"Malam ini seharusnya menjadi istimewa—perayaan enam bulan pertemuan kita. Kau masih ingat kan bahwa kita telah bertunangan?"

"Susan,"
David mendesah.
"Aku benar-benar tidak bisa membicarakan hal ini sekarang. Mobil jemputan sedang menungguku di luar. Aku akan meneleponmu dari pesawat dan menjelaskan semuanya."

"Pesawat?" ulang Susan.
"Apa yang sedang terjadi? Kenapa
pihak universitas ...?"

"Bukan universitas. Aku akan menelepon lagi dan menjelaskannya nanti. Aku harus pergi sekarang. Mereka sudah memanggilku. Aku akan menghubungimu. Aku janji."

"David!" jerit Susan.
"Apa yang—"
Terlambat. David telah menutup teleponnya. Susan Fletcher berbaring selama beberapa jam. Dia menunggu David menelepon kembali. Tetapi telepon itu tidak berdering.


SORE ITU, Susan terduduk dengan sedih di bak mandinya. Dia membenamkan dirinya di dalam air bersabun dan mencoba melupakan Stone Manor dan Smoky Mountains. Di manakah David berada? Susan bertanya-tanya. Kenapa David belum menelepon? Perlahan-lahan, air di sekeliling Susan berubah dari panas menjadi suam-suam kuku, dan akhirnya dingin. Susan baru saja akan keluar dari bak ketika telepon nirkabelnya berdering.Susan meloncat berdiri dan mencipratkan air ke lantai ketika dia berusaha meraih gagang telepon yang diletakkannya di wastafel.

D I G I T A L FORTRESS 10

"David?"
"Ini Strathmore," balas sebuah suara. Susan terkulai.
"Oh."
Susan tidak bisa menyembunyikan kekecewaannya.
"Selamat sore, Komandan."
"Mengharapkan pria yang lebih muda?" sang suara terkekeh.
"Tidak, Pak," jawab Susan merasa malu. "Ini tidak seperti
yang—"
"Tentu saja." Pria itu tertawa. "David Becker adalah pria
yang baik. Jangan sampai kehilangan dia."
"Terima kasih, Pak."
Suara sang komandan mendadak berubah menjadi serius.
"Susan, aku menelepon karena aku membutuhkanmu di sini. Sekarang."
Susan berusaha memusatkan perhatiannya. "Sekarang hari Sabtu, Pak. Biasanya kita tidak—"
"Aku tahu," jawabnya dengan tenang. "Ini urusan darurat."
Susan terduduk tegak. Darurat? Susan tidak pernah mendengar kata itu keluar dari mulut Komandan Strathmore. Sebuah urusan darurat? Di Crypto? Dia tidak bisa membayangkannya.
"Y-ya, Pak." Susan terdiam sejenak. "Saya akan ke sana secepat mungkin."


D I G I T A L FORTRESS 11

SUSAN FLETCHER berdiri dalam balutan sebuah handuk dan meneteskan air ke atas baju-baju yang terlipat rapi yang sudah disiapkan malam sebelumnya—celana pendek untuk biking, sebuah baju hangat untuk malam-malam di pegunungan yang sejuk, dan sebuah baju dalam yang khusus dibelinya untuk malam-malam tersebut. Dengan perasaan kecewa, dia pergi ke lemarinya untuk mengambil sebuah blus bersih dan rok. Sebuah urusan darurat? Di Crypto? Ketika turun ke lantai bawah, Susan bertanya-tanya bagaimana hari itu bisa bertambah buruk. Susan akan segera tahu.

next publish for reading complete

Related Post



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Tulis Komentar anda di sini

Related Posts with Thumbnails
Loading