google-site-verification=UZOJzgQVIWen0hhmMkzbFt_zhpkperI9dij4XvLIaW8 Rafillus google-site-verification=UZOJzgQVIWen0hhmMkzbFt_zhpkperI9dij4XvLIaW8 google-site-verification=UZOJzgQVIWen0hhmMkzbFt_zhpkperI9dij4XvLIaW8

19 Mei 2010

Home » » Rafillus

Rafillus

Rafilus telah mati dua kali. Kemarin dia mati. Hari ini tanpa pernah hidup kembali ia mati lagi. Padahal, semenjak bertemu dengan dia untuk pertama kali beberapa bulan lalu, saya mendapat kesan bahwa dia tidak akan mati. Andaikata tumbang paling-paling dia hanya berkarat.
Tentu saja kesan saya salah. Tidak mungkin dia tidak akan mati meskipun demikian hampir selamanya saya tidak dapat mengelak untuk berpendapat, bahwa sosok tubuhnya tidak terbentuk dari daging, melainkan dari besi. Kulitnya hitam mengkilat, seperti permukaan besi yang sering dipoles dan hampir tidak pernah berhenti digosok.
Beberapa minggu sebelum saya bertemu dengan dia, udara sudah panas seperti sekarang. Memang sudah beberapa bulan keadaan langit tidak seperti biasa. Tidak pernah musim kering begini panjang. Tanah banyak yang retak, tetumbuhan banyak yang loyo, dan sekian banyak kepompong enggan hidup. Sumur banyak yang kehabisan air, sementara air ledeng sulit didapat.


Sebatang Kara

Lebih kurang tiga hari sebelum saya bertemu dengan Rafilus, seorang upas-pos bernama Munadir datang ke rumah saya setelah mengutuk matahari, dia menyatakan sangat capai dan ingin beristirahat. Kemudian tanpa malu-malu dia minta minum air setrup dingin. Setelah minum dengan cara sangat rakus, barulah dia menyerahkan surat.
Ternyata surat tersebut sebuah undangan dari seseorang bernama Jumarup, tinggal di Jl. W.R. Supratman 205. kalau tidak salah saya pernah mendengar namanya, mungkin seorang pengusaha. Saya diundang untuk menyantap makanan pada pesta khitanan anaknya. Siapa nama anakny, saya lupa.
Undangan jatuh pada hari Minggu pagi. Saya datang. Di sanalah saya bertemu dengan Rafilus untuk pertama kali. Semenjak saat itu saya mendapat kesan bahwa dia tidak akan mati. Dia berkaki dua, berjalan seperti manusia biasa, akan tetapi langkah-langakah kakinya menimbulkan derap bagaikan kendaraan berat. Saya juga mendapat kesan yang tidak dapat ditawar, bahwa dia kebal peluru. Itu kesan saya. Dan saya tahu bahwa sebetulnya saya harus melawan kesan saya sendiri.
Rafilus ramah dan nampak selalu ingin bersahabat. Perhatian saya langsung tersedot. Meskipun demikian, saya tidak dapat melepaskan diri saya dari rasa takut. Pada waktu saya berjabat-tangan dengan dia, tangan saya terasa akan berantakan. Dan pada waktu dia menepuk bahu saya, mau rasanya saya menjerit, karena engsel-engsel tulang saya terasa akan lepas.
Tentu saja saya yakin atau harus yakin, bahwa dia pasti terbentuk dari daging. Tapi sosok tubuhnya, kilat wajahnya, dan caranya bergerak membuat saya tunduk untuk berpendapat bahwa dia terbuat dari bahan lain. Tidak mungkin rasanya seseorang yang berasal-usul dari tanah nampak tegak bagaikan besi. Andaikata Rafilus sebuah kejanggalan, tidak pernah sebelumnya saya menyaksikan kejanggalan seperti dia. Pernah saya mendengar orang berkepala dua, orang tidak memunyai kaki, dan orang mempunyai pantat tanpa lubang. Banyak pula kejanggalan kejanggalan lain, akan tetapi orang-orang janggal itu tidak terbuat dari bahan yang keliru. Mereka tetap berbentuk dari daging. Pada suatu saat mereka akan rebah, terguling ke tanah, dan kembali menjadi tanah. Alur ke mana nyawa mereka akan melesat sudah jelas. Amal dan perbuatan mereka akan menentukan mereka akan terlempar ke sorga atau tergelincir ke neraka. Sebaliknya nampak benar Rafilus terbuat dari bahan yang keliru.
Percekcokan antara kesadaran, bahwa dia orang biasa dengan kesan bahwa dia terbuat dari bahan yang seharusnya bukan dipergunakan untuk membuat manusia,mendesak saya untuk menanyakan perihal orang tuanya. Dengan nada bersungguh-sungguh dia menjawab, bahwa dia tidak pernah mengenal ayah-ibunya. Dia tidak tahu kapan dan di mana dia lahir. Katanya tahu-tahu dia sudah berada di rumah yatim-piatu. Disana dia juga tidak pernah berusaha untuk mebongkar siapa orang tuanya.
Dia sudah terbiasa untuk tidak mempertanyakan asal-usulnya. Dan dia menyadari bahwa mempunyai orang-tua adalah di luar jangkauannya. Sementara itu, dia juga tidak dapat membayangkan apakah dia mempunyai saudara atau tidak. Dia selalu berusaha untuk menyadarkan dirinya bahwa dia hanyalah sebatang kara. Untuk selamanya dia akan sendirian. Hubungannyadengan siapa pun hanya bersifat sementara. Dia hanya mengharapkan apa yang mungkin dia capai, yaitu mempunyai anak.


2.2.Di rumah Jumarup

Mungkin saya tidak akan bertemu dengan Rafilus seandainya Jumarup mempunyai sopan santun. Dia mengundang sekian banyak tamu, tapi pada waktu mereka datang, dia tidak ada. Dimana anak Jumarup dan seluruh keluarganya, tidak juga ada yang tahu. Semua tamu diserahkannya ke tangan sekian banyak pelayan, sementara semua pelayan mempunyai anggapan seluruh tamu pasti kelaparan. Sikap mereka menampakan hasrat untuk cepat-cepat menumpahkan seluruh makanan kedalam perut tamu. Dan dari sikap mereka nampak bahwa mereka disewa dari bermacam-macam rumah makan terkenal tanpa mengetahui dimana Jumarup.
Untung rumah Jumarup sangat besar, demikian juga pekarangannya. Di dalam rumah dan pekarangan banyak terdapat patung besi, sangat sempurna dan sangat nampak seperti manusia. Beberapa patung berdiri, beberapa duduk, dan beberapa berjongkok. Tidak jauh dari pohon beringin ada sebuah patung orang duduk.
Pada waktu mata saya menangkap Rafilus, dia sedang mengamat-amati patung duduk itu. Saya yakin patung itu kokoh dan tidak mudah goyang. Tapi entah mengapa nampak goyah pada waktu Rafilus menepuk nepuk bahunya. Saya benar-benar tersengat oleh daya tariknya. Andaikata Jumarup tidak membiarkan tamu-tamunya, mungkin saya sedang bercakap-cakap dengan orang lain, dan saya tidak perlu berkeliaran mencari orang yang mungkin sudah saya kenal. Dan memang banyak tamu yang tidak saling mengenal. Bahkan siapa Jumarup pun banyak di antara mereka yang tidak tahu dan tidak sanggup menebak.
Tanpa saya Tanya bagaimana pendapatnya mengenai Jumarup dengan sikap bersahabat dia menyatakan kegeramannya terhadap Jumarup. Di banyak tempat, katanya, kamera-kamera Jumarup mengintip kebodohan para tamunya dan keserakahan mereka mencaplok makanan. Tamu mempunyai sedikit harga diri . katanya, pasti merasa dimata-matai.
Setelah berbicara beberapa saat, dengan mendadak dia kehilangan minat untuk mengemukakan pendapat. Kemudian dengan mendadak pula dia meninggalkan saya, menyelinap ke sekian banyak tamu. Saya tidak melihat kelelahan padanya. Panas udara malahan membuat kulitnya lebih megkilap, seolah tubuhnya benar-benar besi.
Saya pindah ke tempat lain. Sekian banyak tamu nampak tidak terikat satu sama lain kecuali oleh undangan Jumarup, sementara Jumarup sendiri entah kemana, dan sementara banyak gerak mereka mengendon dalam film melalui sekian banyak kamera. Waktu mereka makan, nampak mereka melakukannya bukan oleh kebutuhan, melainkan oleh kewajiban.
Agak lama saya mencari Rafilus, akan tetapi tidak dapat menemukan nya. Jumlah tamu begitu banyak , pekarangan Jumarup luar biasa luas, demikian pula rumahnya. Dan di dalam rumah terdapat sekian banyak ruang, lorong, dan liku-liku. Saya tidak dapat membayangkan mengapa dia membuat rumah seolah-olah bukan untuk tempat tinggal melainkan untuk membingungkan semua orang yang memasukinya.
Saya terus mencari Rafilus. Makan apa dia dan bagaimana caranya makan, benar-benar saya ingin tahu. Seluruh bagian pada tubuhnya seolah – olah meninggalkan kesan bahwa semua bagian di dalam tubuhnya hanyalah rongga kosong belaka. Saya yakin bahwa dia mempunyai hati, paru, ginjal, limpa, pancreas, dan lain-lain. Meskipun demikian saya selalu memperoleh kesan bahwa dia tidak memerlukan apa-apa selain minyak pelumas.
Setelah gagal mencari orang lain yang saya kenal atau dapat saya ajak berkenalan, saya berjalan ke pekarangan belakang. Bagian belakang juga luas, disana saya menemukan segerombol orang. Nampaknya mereka sudah saling mengenal.
Saya mendekat tetapi mereka tetap tidak memperhatikan saya, dan saya pura-pura tidak memperhatikan mereka. Dari pembicaraan mereka saya tahu bahwa mereka pegawai pabrik kaos oblong milik Jumarup di jalan Pandegiling. Juga dari pembicaraan mereka saya tahu bahwa tidak ada seorangpun di antara mereka, yang pernah melihat apalagi bertemu dengan Jumarup. Mereka hanya berhubungan dengan atasan mereka, yaitu orang-orang bawahan juragan mereka. Setiap pabrik atau perusahaan mempunyai pemimpin sendiri yang diangkat oleh Jumarup. Sementara itu pegawai-pegawai pabrik kaos ini ternyat tidak tahu siapa pemimpin pabrik tempat mereka bekerja. Mereka hanya tahu bahwa pabrik itu kepunyaan Jumarup.
Udara makin panas. Banyak tamu memilih duduk di dalam rumah, atau di bawah pohon-pohon besar. Karena tidak tahu harus berbuat apa lagi, saya berjalan-jalan ke bagian lain pekarangan. Nampak seluruh pekarangan di garap dengan baik, tetapi juga nampak bahwa semua tanaman itu tidak bergairah menentang keganasan panas udara.
Pikiran saya tetap tidak mau lepas dari Rafilus. Saya belum pernah melihat orang sekokoh dia bahkan sebelumnya membayangkan pun tidak. Sulit bagi saya membayangkan dia mati. Karena tidak mungkin mati paling tidak, demikianlah kesan saya yang sebetulnya saya tentang sendiri, pada suatu saat dia akan patah bagaikan baja kelelahan. Sudah beberapa kali saya menyaksikan garden mobil patah, karena kelelahan metal. Dia juga akan patah, paling-paling dia akan berkarat. Dan dia tidak mungkin mati.

2.3.Berdentang

Jumarup tetap tidak nampak, demikian juga keluarganya. Seluruh tamu tetap diserahkan ke tangan sekian banyak pelayan. Dan semua pelayan menganggap seolah semua tamu selamanya dalam keadaan lapar. Mungkin mereka sudah menerima titah Jumarup untuk tanpa berhenti berusaha keras menjejalkan segala macam makanan ke dalam mulut tamu-tamunya. Rupanya tamu-tamu itu segan pulang karena kemanapun mereka bergerak, kebesaran Jumarup selalu menyertai mereka. Akhirnya saya juga mengetahui bahwa kata-kata Rafilus benar. Disana-sini terpancang kamera tersembunyi.
Lama-kelamaan saya merasa lelah. Saya merasa dipermainkan oleh Jumarup. Dia menghina sekian banyak orang, termasuk saya.
Disuatu pojok pekarangan, ada seorang jongos dengan gaya sopan akan tetapi memaksa mempersilahkan saya mengambil minuman. Saya mengambilnya. Pikir saya, tidak mungkin saya mempunyai kekuatan untuk menghancurkan Jumarup. Saya hanya dapat merusak barangnya. Karena itu saya terus berjalan. Pada tempat yang kebetulan sepi, saya lemparkan gelas Jumarup dengan cara yang sembarangan. Saya tidak mempunyai minat kearah mana gelas akan melayap. Saya hanya membayangkan bahwa gelas itu Jumarup, dan yang saya lempar juga Jumarup.
Dalam waktu sangat singkat, gelas itu menimbulkan suara berdentang. Entah mengapa, dentang tersebut kedengaran sangat aneh. Ternyata gelas tidak menggampar tembok, melainkan kepala Rafilus. Kebetulan dia sedang kencing menghadap ke tembok. Saya terkejut tapi nampaknya dia tidak. Dia menoleh, tersenyum, dan sambil terus kencing, melalui matanya dia mengundang saya. Tentu saja saya tidak mengira bahwa dia dapat kencing, sekalipun saya sadar sesadar-sadarnya bahwa dia tidak mungkin terbuat dari besi.
Saya minta maaf. Dia menyatakan bahwa dia tidak merasa apa-apa. Dia justru menyatakan bahwa dia sanggup dihantam dengan apapun. Kalau perlu dengan lonjoran besi. Kemudian dengan serba ringkas dia bercerita mengenai masa kanak-kanaknya, ketika masih tinggal di rumah yatim piatu. Katanya pada waktu itu dia sering disiksa. Dia sering diikat, dipukuli, disuruh berdiri, kemudian berjongkok bergantian sekian ratus kali, dilarang tidur dan disuruh berdiri sepanjang malam menghadap tembok. Siksaan demi siksaan telah banyak ditelan nya tanpa hak untuk mengaduh dan mengeluh. Lemparan gelas saya tidak apa-apa. Dia tahu bahwa saya tidak sengaja melemparnya.
Kemudian dia menepuk-nepuk saya sebagaimana pernah dilakukannya sebelumnya ketika saya berkenalan dengan dia. Sekali lagi saya merasa seluruh engsel tulang saya akan menghambur berlepasan. Setelah menepuk-nepuk bahu saya, dengan sangat tergesa-gesa dia meninggalkan saya.
Saya berusaha mengikutinya, akan tetapi tidak sanggup. Tulang belulang saya masih mengaduh. Untuk beberapa saat saya berjalan agak sempoyongan. Dia masuk ke ruang dalam langsung menyelinap diantara sekian banyak tamu. Kemudian saya menyadari lagi, bahwa derap langkahnya bagaikan geseran roda kendaraan berat. Meskipun demikian saya harus yakin, bahwa derap kakinya tidak mungkin luar biasa.
Saya terpaksa ikut-ikutan masuk ke ruang dalam. Begitu masuk seluruh tubuh saya tertampar udara dingin dari AC. Seperti yang sudah saya lihat pada waktu saya berjalan-jalan di dalam rumah pada beberapa saat sebelumnya, saya melihat lagi sekian banyak lorong dan sekian banyak ruang. Ketinggian masing-masing ruang tidak sama. Di lantai dua dan di lantai tiga juga demikian. Hampir disetiap pojok ada patung besi. Seperti patung-patung di luar rumah, patung patung ini juga sangat sempurna. Setiap kali memegang salah satu patung, saya memperoleh kesan bahwa saya sedang memegang Rafilus.
Karena semua tamu dibiarkan terus di tangan para pelayan dan Jumarup belum juga nampak, akhirnya beberapa tamu pulang. Saya juga memutuska untuk segera pulang, dengan terlebih dahulu mencari Rafilus. Dia tetap tidak nampak. Terpaksa saya menuju ke pekarangan depan, kemudian menuju ke jalan. Lalu saya langsung berjalan ke mobil.
Udara bukan main panas. Angin tidak begitu garang, tapi sanggup mengaduk debu dan mendesahkan panas matahari. Udara makin terasa panas, karena mobil saya agak jauh dari rumah Jumarup. Banyak tamu yang datang lebih awal daripada saya memarkir mobil mereka. Ada juga di antara mereka yang mencari becak, atau bergegas ke Jl. Raya Darmo untuk mencari bemo.
Di rumah Jumarup tadi saya juga merasa tidak bersama sekian banyak orang. Semua orang bagaikan barang bergerak. Bukan mahluk. Saya mendengar suara mereka, akan tetapi yang lebih terdengar adalah keluh-kesah hati saya sendiri. Saya merasa patut untuk mencurigai bahwa pikiran, perasaan, dan pandangan mata saya sedang galau. Dan saya juga yakin bahwa Rafilus pasti manusia biasa, terbuat dari tanah liat yang menjadi daging, dapat mati, dan pasti akan mati.
Di luar dugaan, ternyata Rafilus sedang berdiri tidak jauh dari mobil saya. Sikapnya menunjukian bahwa dia sedang menunggu bemo. Tapi saya tahu, dan dia pasti juga tahu, bahwa tidak mungkin ada bemo lewat Jl. W.R. Supratman, yaitu jalan mewah yang bukan urat nadi. Kalau mau mencari bemo, dia harus berjalan terlebih dahulu ke Jl. Raya Darmo. Dia pasti. Tahu.
Tanpa saya panggil dia menoleh, kemudian mendekati saya. Dia nampak senang ketika saya mempersilahkannya naik mobil. Sebelum saya sempat bertanya ke mana dia perlu saya antarkan, dia sudah bertanya terlebih dahulu apakah saya tidak berkebaratan seandainya dia mengajak saya berputar-putar entah ke mana. Saya menyatakan tidak berkeberatan. Dia menyatakan ingin iseng pergi ke daerah Perak tanpa tujuan tertentu.

2.4.Gerombolan

Jl.Raya Darmo agak sepi. Di sana-sini aspal menjadi lembek. Pergeseran ban dengan aspal menyeruakkan bunyi tidak enak. Bobil serasa enggan bergerak, apalagi berlari. Pohon-pohon di sepanjang jalan cenderung menjadi jompo.
Lebih kurang lima belas tahun lalu, di tengah-tengah jalan terbujur rel trem listrik Wonokromo-Perak. Sekarang seluruh rel sudah terkubur petak-petak anaman yang memisahkan belahan jalan sebelah kanan dan belahan sebelah kiri.
Ketika masih ada trem-listrik, saya pernah ikut naik trem dari Wonokromo menuju ke Tunjungan. Kebetulan pada waktu itu trem agak sesak. Saya terpaksa berdiri di sebelah masinis. Jalan agak sepi. Saya melihat beberapa orang menyebrang rel dengan gaya seenaknya jauh di depan trem.
Tapi ketika trem mendekati Jl. Pandegiling, ada seorang laki-laki muda menyebrang lebih kurang lima meter dart r em. Dia berjalan dengan sangat enak. Apa yang saya perbuat dalam detik berikutnya saya tidak tahu. Saya juga tidak tahu apa yang diperbuat oleh masinis. Sementara itu beberapa penumang menjerit ganas. Trem berhenti dengan sangat mendadak. Laki-laki itu sudah hancur.
Sekarang, lebih kurang lima-belas tahun berselangpada waktu saya sedang duduk mengemudikan mobil di sebelah Rafilus, saya tidak dapat membayangkan apa yang akan terjadi andaikata laki-laki itu dia. Sulti membayangkan dia remuk dan meggelimangkan darah.
Dia duduk di sebelah saya, tenang setenang lai-lakiyang hancure tergilas trem dahulu. Sementara itu dari wajahnya senantiasa terbersit senyum. Dia sangat menarik, sangat ramah, dan sam sekali tidak jumawa. Mungkin sekian banyak perempuan ingin mencicipi tubuhnya. Tanpa saya Tanya, dia menceritakan pengalamannya ketika dia dikhitan. Tentu saja dia tidak dikhitan bersama sekian banyak anak yatim-piatu pada suatu hari besar, entah hari besar apa. Sebaimana kehidupannya sehari-hari pada waktu itu, dia juga tidak dikhitan sebagai anak, melainkan sebagai serombongan anak. Tentu saja semua anak, termasuk dia, tidak dperlakukan sebagai anak. Dukun-dukun mengkhitan mereka tanpa memperhatikan mereka satu-persatu. Apakah seorang anak gembira, takut, atau tidak acuh, bagi mereka sama sekali tidak penting, dan mungkin sama saja. Karena terbiasa dengan cara hidup demikian, dia merasa sebagai bagian sesuatu yang lebih besar. Jarang dia merasa sebagai orang yang benar-benar orang.
Pada waktu akan dikhitan, ada beberapa anak menangis. Dia tidak demikian. Perasaannya pada waktu itu kosong. Menangis atau tidak baginya sama saja……

Related Post



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Tulis Komentar anda di sini

Related Posts with Thumbnails
Loading