google-site-verification=UZOJzgQVIWen0hhmMkzbFt_zhpkperI9dij4XvLIaW8 usi2506.Blog Suka-Suka: filsafat google-site-verification=UZOJzgQVIWen0hhmMkzbFt_zhpkperI9dij4XvLIaW8
Tampilkan postingan dengan label filsafat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label filsafat. Tampilkan semua postingan

20 Maret 2011

Pria Pendek Lebih Gampang Cemburu?

Dalam sebuah studi seperti dicuplik dari in the news, ditemukan bahwa pria yang bertubuh pendek lebih mudah dan sering cemburu ketimbang mereka yang bertubuh tinggi.Bosan dan jenuh dengan pacar yang cemburuan dan sebentar-sebentar curiga? Siap-siap saja mencari pacar yang tinggi.Si dia mengecek nomor telepon dan SMS di handphone, atau mengobrak-abrik email Anda dan bahkan bertanya pada Anda siapa sih yang comment di Facebook Anda. Jika memang demikian pertimbangkan untuk mencari pacar yang tinggi! Kedengarannya memang konyol, tetapi hal ini telah dibuktikan dalam sebuah penelitian di Universitas Groningen dan Valencia bahwa pria yang pendek lebih mudah cemburu ketimbang mereka yang tinggi.

Alasannya sebenarnya sederhana, mereka yang memiliki postur tubuh tinggi cenderung lebih percaya diri, lebih aktif dan menarik, berani, produktif dan sukses dibandingkan mereka yang berpostur pendek. [break]

Sedangkan mereka yang berpostur tubuh pendek memiliki kecenderungan merasa kecil, tidak percaya diri, mudah tersinggung, mudah marah dan selalu merasa terancam bahwa apa yang dimilikinya akan diambil orang lain. Read More

01 Mei 2010

Filsafat sebagai Pengajaran Hidup

Apabila filsafat dijadikan suatu “Ajaran hidup” maka ini berarti bahwa orang mengharapkan dari filsafat itu dasar-dasar ilmiah yang dibutuhkan untuk hidup. Filsafat diharapkan memberikan petunjuk-petunjuk tentang bagaimana kita harus hidup untuk menjadi manusia sempurna, yang baik, yang susila dan bahagia.
Jadi tidak hanya ilmu pengetahuan yang teoritis saja, melainkan yang praktis juga, artinya yang mencoba menyusun aturan-aturan yang harus dituruti agar hidup kita mendapat isi makna dan nilai. Dan ini sesuai dengan arti “filsafat” sebagai usaha mencari kebijaksanaan, yang meliputi baik pengetahuan dan pemahaman yang mendalam (insight) maupun sikap hidup yang “benar” yang sesuai dengan pengetahuan itu.
Sebenarnya pada hakikatnya keinginan yang terdapat dalam hati kita itu tidak hanya dorongan untuk mengerti saja. Itu hanya satu aspek saja, satu fungsi saja, meskipun satu fungsi yang sangat penting bagi keseluruhan manusia. Karena itu dorongan untuk mengerti dengan sedalam-dalamnya; itu berarti dorongan untuk mengerti bagaimanakah sebenarnya hakkat kenyataan itu, bagaimanakah hakikat manusia itu.. untuk dapat hidup menurut kebenaran itu. Inilah yang menyebabkan filsafat berarti mencari pandangan hidup, mencari pegangan dan pedoman hidup.
Maka tidak mengherankan bahwa filsafat dalam sejarahnya di pandang sebagai ajaran hidup. Demikian halnya misalnya pada zaman dulu antara lain pada masa Phytagoras, Plato dan lain-lain.
Dalam kalangan suku Jawa dorongan ini kerapkali terlihat dalam ucapan yang menganjurkan supaya manusia mengerti “Sariro sejati” (apakah dia sebenarnya). Bahkan dikatakan bahwa manusia, jika hendak mengerti “sariro sejati” itu harus mengerti “pati seseliran”.
Demikianlah kalimatnya sebagai berikut:
”Yen siro yen wit ono / jatining sariro iku / den wruh pati seseliran”
Artinya:
Jika engkau hendak mengerti dirimu sendiri yang sebenar-benarnya, engkau harus mengerti “ mati yang tercinta”
Pada hakekatnya mengerti “sariro sejati” itu dalam konsekuensinya berarti “mengerti Tuhan” .. sing sopo wruh ing sariro / yo iku wruh ing Pangerane .. (barang siapa mengerti diri sendiri, maka dia mengerti Tuhan dan Rasul-Nya).

Dalalm suluk wijil (Jawa) hal ini nampak demikian:

Pengetingsun ing siroro wijil,
Den yitno uripiro neng donyo,
Yo sumambraneng gawe
Kaweruhan den estu,
Sarironto pun dudu jati,
Kang jati dudu siro,
Sing sopo puniko,
Weruh rekeh ing sariro,
Mengko sesat weruh siro maring Hyang Widi.
Iku Margo utomo…………………………….


Pikiran yang semacam ini merata dalam seluruh sejarah filsafat. Jadi de facto / das sein (dalam kenyataannya) teranglah bahwa para filsuf dalam perenungannya pada akhirnya sampailah pada soal tentang Tuhan dan ke-Tuhan-an. Akan tetapi ini bukan saja “de facto/das sein” melainkan juga “de jure / das sollen” (seharusnya demikian). Artinya jika manusia berpikir benar-benar dan dengan ini mengerti akan dirinya sendiri, mengerti apakah manusia itu pada hakekatnya (bahwa ia bukan yang terdasar, bahwa ia tergantung, bahwa ia diadakan, bahwa ia becita-cita tinggi, bahwa ia merindukan kebahagiaan dan sebagainya), maka ia akan sampai kepada pengertian tentang Tuhan.
Hal ini tidak kami bentangkan disini dan kami kemukakan ialah untuk menunjukkan apakah sebenarnya filsafat itu dan bagaimanakah timbulnya filsafat itu. Pada hakikatnya: “filsafat adalah pengertian tentang manusia sekedar ia bergerak kea rah Tuhan”.
Dengan ini timbulah soal tentang hubungan antara filsafat dengan agama. Permasalahan ini akan kami bahas nanti pada bab yang lain. Read More

Apakah Filsafat itu?

1. Arti Kata Filsafat

Apakah filsafat itu dan mengapa semua orang mengejarnya? Inilah pertanyaan pertama yang timbul dan harus dijawab.
Apabila kita hendak bekerja, maka kita harus mengerti lebih dahulu apakah yang akan kita kerjakan itu. Sebab tanpa pengertian tentang apakah yang akan dilakukan, orang tak dapat berbuat. Ia hanya dapat berbuat jika ia mengerti apa yang diperbuatnya. Pengertian yang kita cari itu untuk sementara hanyalah pengertian yang dangkal, yang belum mendalam. Yang kita cari adalah pengertian sekedar cukup untuk memulai saja.
Baiklah kita mulai dengan menyelidiki nama ‘filsafat’ dulu, sebab nama suatu barang / pengertian itu biasanya telah dapat memberikan suatu kesan tentang isi dan maksud barang/pengertian itu, membuka sesuatu tentang artinya. Maka filsafat dijabarkan dari perkataan”philosophia”. Perkataan ini berasal dari bahasa Yunani yang berarti: “Cinta Akan Kebijaksanaan” (love of wisdom).
Menurut tradisi,Pythagoras atau Socrateslah yang pertama-tama menyebut diri”philosophus”, yaitu sebagai protes terhadap kaum “Sophist”, kaum terpelajar pada waktu itu yang menamakan dirinya “bijaksana”, padahal kebijaksanaan itu hanya semu kebijaksanaan saja. Sebagai protes terhadap kesombongan mereka maka Socrates lebih suka menyebut diri”pecinta kebijaksanaan”, artinya orang yang ingin mempunyai pengetahuan yang luhur (Sophia) itu. Mengingat keluhuran pengetahuan yang dikejarnya itu maka ia tak mau berkata bahwa ia telah mempunyai, telah memiliki atau menguasainya.
Nama ini sudah semestinya, sebab dalam filsafat orang tak pernah akan dapat mengatakan selesai belajar, karena luas dan dalam nya filsafat itu orang tak dapat menguasainya dengan sempurna. Selama manusia masih hidup dalam dunia ini harus berusaha untuk mengejarnya. Hingga lebih baik dikatakan bahwa orang hanya ingin menguasainya, dengan menyebut diri “filsuf”saja.


2. Kesatuan Paham Para Filsuf

Dengan menyebut filsafat “ Cinta akan Kebijaksanaan”, maka timbullah pertanyaan selanjutnya yaitu apakah “kebijaksanaan” yang kita kejar itu?
Teranglah kiranya bahwa kebijaksanaan itu ada sangkut-pautnya dengan mengerti (know), dengan pengetahuan (knowledge). Akan tetapi tidak setiap “mengerti” itu adalah kebijaksanaan, adalah filsafat. Hanya yang pasti ialah bahwa kebijaksanaan, adalah filsafat. Hanya yang pasti ialah bahwa kebijaksanaan dan filsafat itu suatu bentuk pengetahuan tertentu, yang boleh dikatakan merupakan pengetahuan dalam bentuknya yang tertinggi.
Tetapi apabila kita menyelidiki sejarahm maka ternyata bahwa kebijaksanaan atau filsafat itu diberi definisi aau batasan yang sangat berlain-lainan, bahkan sering bertentangan satu sama lainnya. Dan jika kita memilih salah satu definisi, maka pilihan itu seakan-akan tak mempunyai alas an yang cukup. Karena itu marilah kita menempuh jalan lain.
Meskipun antara para ahli pemikir itu sendiri ada perbedaan paham tentang definisi atau batasan filsafat itu, namun dalam perbedaan itu terdapat persamaan juga yaitu:

1.Bahwa filsafat adalah suatu bentuk “ mengerti”
2.Semua mengakui bahwa filsafat termasuk “ilmu pengetahuan”
3.Ilmu pengetahuan yang manakah? Ilmu pengetahuanyang mengatasi lain-lain ilmu. Mengatasi dalam arti; lebih mendalam, lebih umum/ universal, lebih sesuai dengan kodrat manusia.

Nah, ini dapat dipakai sebagai titik pangkal penguraian kita. Maka untuk menentukan jenis pengetahuan apakah filsafat itu, perlulah menguraikan sedikit tentang hal mengerti atau apakah mengerti itu, tentang bermacam-macam bentuk ilmu pengetahuan, agar akhirnya dapat kita simpulkan bentuk pengetahuan apakah filsafat itu.


A.Apakah Mengerti itu?

Hati manusia mengadung bermacam-macam keinginan, bermacam-macam dorongan atau motivasi. Dalam pelajaran filsafat, dorongan yang paling banyak minta perhatian kita ialah “Keinginan untuk mengerti”
Aristoteles dalam bukunya yang bernama”Metaphsica”, berkata demikian “semua orang menurut kodratnya ingin mengerti”. Keinginan ini telah kelihatan pada anak-anak kecil, ia berhajat untuk menyelidiki, meraba-raba, mencoba-coba, ia heran akan segala yang dilihatnya dan apa saja yang hendak ditanyakannya.
Tetapi ia tak hanya melihat-lihat saja. Melihat tanaman dan binatang-binatang, ia memberikan nama kepadanya. Ia tak puas dengan hanya melihat keadaan dan kejadian-kejadian itu saja. Dengan akalnya ia mengerjakan fakta-fakta itu, menggolong-golongkan, menghubung-hubungkan dan menarik kesimpulan-kesimpulan daripadanya.
Misalnya dari jurusan awan di langit ia menentukan arah angina dan dari arah angina itu ia dapat menentukan apakah nanti akan jatuh hujan dan sebagainya. Keharusan untuk mencari nafkah dan mempertahankan hidupnya memaksa orang berbuat demikian.
Jadi apakah yang kita lihat? Dengan panca indera manusia menerima bermacam-macam pengalaman dan kejadian itubaik di luar maupun di dalam dirinya sendiri. Tetapi ia tak puas dengan hanya menetapkan kejadian-kejadaian (facts) itu, maka pikiran menyusun, mengatur, menghubungkan, mempersatukan bermacam-macam pengalaman itu mencoba mencari keterangannya. Dengan perkataan lain, kita tak hanya mengerti bahwa; “ini adalah demikian”, melainkan juga ingin mengerti “mengapa ini memang demikian adanya”. Dan baru dengan demikianlah “mengerti” itu menjadi pengetahuan.
Walaupun “pengertian” dan “Pengetahuan” pada dasarnya hamper tak berbeda artinya, namun untuk membentuk peristilahan yang tetap dan tepat maka di sini dengan sengaja dibedakan antara:
1.pengertian yang berarti konsep, idea, cita;
2.pengetahuan yang b erarti knowledge, kennis, pemahaman perkataan “kenalan” bagi knowledge” kami anggap kurang tepat.


B.Manusia disebut Mikro-Makro

Selanjutnya inilah yang ajaib: bagi manusia tidak hanya mengerti akan dunia di luarnya, yang disebut makro-kosmos tetapi tahu akan dirinya pula, ia tidak hanya dapat berpikir tentang dunia, melainkan juga tentang dirinya sendiri. Ia membedakan dirinya dari dunia dan orang – orang lain, mengalami dirinya sebagai suatu kesatuan yang disebutnya “aku”.ia sadar akan dirinya sendiri akan “aku”nya sendiri, sadar akan kesadarannya sendiri juga. Ia tahu akan apa yang dipikirkannya, dialaminya, di perbuatnya. Ia tidak hanya mengerti, tetapi mengerti bahwa ia mengerti. Mata, misalnya dapat melihat, tatapi mata tak dapat melihat bahwa ia melihat, telinga tak dapat mendengar bahwa ia mendengar, tetapi manusia dapat mengerti dan tahu akan mengertinya itu, ia dapat giat dan tahu akan kegiatannya sendiri. Ia adalah satu dan mengalami dirinya sebagai kesatuan juga. Inilah sebabnya manusia sering disebut “Mikro-kosmos” atau dunia kecil. Tidak hanya dalam arti bahwa seluruh kekayaan alam dengan tingkatan-tingkatan kesempurnaannya (benda-benda mati, tumbuh-tumbuhan, binatang-binatang, orang-orang) tersimpul dalam diri manusia dalam satu kesatuan,tetapi terutama karena berkat jiwanya mempunyai suatu dunia-bathin yang tertutup. Inti jiwa yang terdalam, di mana ia mengalami dirinya sendiri, sadar akan adanya sendiri, kebebasannya dan kerohaniannya sendiri.
Apabila dunia batin ini kita selidiki lebih lanjut, maka ternyata terkandung berbagai-bagai gejala seperti misalnya: kita melihat, mendengar, ingat akan sesuatu peristiwa yang telah terjadi, menilai, bermenung-menung, merasa sakit, susah, memutuskan sesuatu, mempunyai cita-cita, mengalami bebagai perasaan seperti rindu, kasih sayang, cinta, benci… gejala –gejala ini biasanya dibagi menjadi 3 golongan yaitu: mengerti – merasa – menghendaki atau: pikiran – rasa- kemauan, atau: cipta – rasa- karasa yang disebut trias dinamika manusia.
Semua gejala-gejala ini, walaupun agak berbeda-beda satu sama lain namun merupakan satu kesatuan juga, karena dipersatukan dalam “aku”. Dalam semua gejala ini, dalaml semua perbuatan-perbuatannya dan kegiatanya manusia mengalami dirinya sendiri sebagai aku, sebagai sumber dan pendukung dari segala kegiatan itu. Read More
Related Posts with Thumbnails
Loading