google-site-verification=UZOJzgQVIWen0hhmMkzbFt_zhpkperI9dij4XvLIaW8 usi2506.Blog Suka-Suka: Pernak-pernik Budaya Jawa google-site-verification=UZOJzgQVIWen0hhmMkzbFt_zhpkperI9dij4XvLIaW8
Tampilkan postingan dengan label Pernak-pernik Budaya Jawa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pernak-pernik Budaya Jawa. Tampilkan semua postingan

13 Juli 2010

Cara Panembah Ala Kejawen



Masyarakat Kejawen memiliki cara panembah (menyembah GUSTI ALLAH) bermacam-macam. Bagi masyarakat Kejawen, tidak ada ketentuan ataupun cara tertentu dalam melakukan Panembah marang GUSTI ALLAH. Dalam melakukan Panembah, ada empat tataran panembah yang ada. Hal itu bisa kita simak dari penggalan Kitab Wedhatama sebagai berikut:

Samengko ingsun tutur,
Sembah catur supaya lumuntur,
Dhihin raga cipta jiwa rasa karsa,
Ingkono lamun ketemu,
Tandha nugrahaning Manon.


(Sekarang aku jelaskan tentang empat macam sembah. Yaitu Sembah Raga, Sembah Cipta, Sembah Jiwa dan Sembah Rasa. Disitu akan ketemu, tanda rahmatnya GUSTI ALLAH)

Panembah adalah berasal dari kata Sembah yang berarti kita mempersembahkan sesuatu. Tetapi yang terjadi sekarang ini justru kita melakukan sembahyang atau shalat memiliki arti yang berbeda. Apa perbedaannya? Ketika kita melakukan sembahyang atau shalat, maka kita bukan mempersembahkan sesuatu pada GUSTI ALLAH, tetapi kita justru meminta melulu. Tidak ada persembahan.

1.Sembah Raga
Sembah raga bisa juga disebut dengan sembah sarengat (syariat) yang mengutamakan gerakan raga dengan cara yang sudah ditentukan, disertai dengan doa baik dengan suara yang dapat didengar orang lain maupun ucapan di dalam batin yang tidak terdengar. Dalam serat Wedhatama dijelaskan:

Sembah Raga puniku
Pakartining wong amagang laku
sesucine asarana saking warih
Kang wus lumrah limang wektu
Wantu wataking wawaton

(Sembah raga itu, pengertiannya orang yang sedang laku, caranya mensucikan diri dengan air, yang lumrah adalah lima waktu, cara-caranya sudah ditentukan)

Sembah raga ini dimaksudkan untuk membersihkan diri dengan latihan tertentu khususnya latihan jasmani. Semua itu merupakan tahap awal yang harus dilewati oleh seorang pencari kebenaran.

2. Sembah Cipta
Panembah dengan cara ini adalah mendekatkan diri dengan menggunakan sarana ciptanya. Yang dimaksud dengan sembah cipta adalah menghentikan ciptanya supaya menjadi tenang. Caranya adalah dengan berdiam diri, dan berusaha menghentikan ciptanya. Berhentinya cipta seorang manusia itu disebut heneng yang memiliki arti meneng (diam dan tenang).

Mengapa gerakan cipta harus dihentikan? Karena daya cipta manusia merupakan aling-aling (tabir penyekat yang menghalangi manusia dengan dunia ghaib). Dengan menghentikan cipta maka akan terbukalah tabir penyekat tersebut yang memungkinkan manusia masuk ke alam ghaib untuk mendekat pada GUSTI ALLAH.

3. Sembah Rasa
Sembah rasa biasa juga disebut sembah kalbu. Rasa manusia itu ada tiga yaitu rasa luar, rasa dalam, dan rasa sejati. Rasa luar adalah rasa yang terdapat pada kulit kita. Misalnya, rasa sakit, rasa panas yang kita rasakan pada kulit kita. Sedangkan rasa dalam, adalah rasa yang ada dalam diri kita. Misalnya, rasa marah, rasa senang dan lain-lain. Sementara rasa sejati adalah rasa yang dapat menerima dan mengerti aneka macam keghaiban.

Apa saja yang bisa terjadi dalam tataran sembah rasa tersebut? Hal itu bisa disimak dari serat:

Keleme mawa emut,
Lalamatan,
Jroning alam kanyut,
Sanyatane iku kenyataan kaki,
Sejatine yen tan emut
Sayekti tan bisa amor.


(Tenggelamnya dengan selalu ingat, sayup-sayup, berada dalam alam hanyut, kebenarannya itulah kenyataannya, Sejatinya kalau tidak ingat, maka tidak akan bisa bertemu (dengan GUSTI ALLAH))

Panembah rasa ini bisa disebut berhasil jika berada pada tingkat heneng-hening dan dapat mempertahankan kesadaran untuk masuk ke alam ghaib GUSTI ALLAH. Jika sudah begitu, maka juga bisa disebut sumusuping rasa jati (menyusupnya rasa sejati). Hal itu bisa disimak dari tembang pangkur berikut ini:

Tan Samar Pamoring Suksma,
Sinuksmaya winahyua ingasepi,
sinimpen, telenging kalbu,
Pambukaning warana,
Tarlen saking liyep-layaping ngaluyup,
Pindha pesathing supena,
Sumusuping rasa jati.


(Bisa melihat pamornya suksma, yang terlihat maya dan bisa dilihat di dalam sepi, tersimpan dalam dasar kalbu, Pembukaannya lantaran rasa yang liyep yang mirip mengantuk, seperti melesatnya rasa, menyatu dengan rasa sejati)

Namun dalam tataran sembah rasa tersebut, apabila sudah muncul rasa kantuk yang amat sangat maka hendaknya si pelaku spiritual tetap "eling lan waspada". Artinya, jika rasa ngantuk tersebut dibiarkan, maka kita akan langsung tertidur pulas dan gagallah upaya untuk mendekat pada GUSTI ALLAH.

4. Sembah Jiwa
Bagi siapa saja yang sudah bisa melakukan sembah jiwa maka jiwa/suksma manusia tersebut dapat lepas dari raga atau jasmaninya. Peristiwa ini di kalangan masyarakat Kejawen disebut "Ngrogoh Sukmo" atau "Mati Sakjroning urip". Dalam tataran tersebut maka kedekatan hamba dengan GUSTI ALLAH sudah boleh dikatakan dekat. Yang ada hanya rasa nikmat yang tiada taranya. Seperti diungkapkan Syech Siti Jenar bahwa rasa nikmatnya melebihi rasa bersenggama.

Read More

20 Mei 2010

Ramalan Joyoboyo

Siapa orang yang melarang orang percaya pada ramalan? lalu apa artinya dalam kehidupan nyata? Pertanyaan diatas bisa saja menjadi tidak penting tetapi bagi yang percaya pada ramalan bahwa ia bisa memberi arah pada tindakan orang dan memberi fungsi tentang masa depan, maka ia (ramalan) menjadi penting dan mempunyai makna.
Dalam budaya Jawa, nama Ronggowarsito mungkin tidak asing lagi. Dialah pujangga jawa pertama yang menterjemahkan sebuah buku ramalan yang sangat berpengaruh ketika itu, yaitu buku Ramalan Joyoboyo di zaman Majapahit.Salah satu kutipan ramalan yang sempat menjadi pedoman orang jawa adalah ramalan tentang Ksatria pitu sing bakal dadi pemimpin ning negara jawa.(Indonesia).


Sebelum kita membicarakan ramalan Joyoboyo tentang Ksatria pitu (tujuh Ksatria) yang bakal menjadi pemimpin di Negara Jawa (baca: Indonesia),terlebih dahulu kita membicarakan ramalan Joyoboyo yang sudah menjadi kenyataan.
1.Pada zaman normal dimana Bangsa Indonesia masih dalam cengkraman Belanda,ramalan Joyoboyo mengenai tanah jawa yang akan dijajah wong kate kulit kuning, seumur jagung, terbukti yaitu; ketika bangsa Belanda pergi meninggalkan tanah air, kemudina disusul dengan datangnya bangsa Jepang yang hanya seumur jagung (tiga setengah tahun).
2.Joyoboyo mengatakan bahwa wong Londo ora ono, wong Chino tinggal sejodho, wong Djowo tinggal separo ternyata juga terbukti. Kepergian Belanda dari negara Indonesia membuat orang cina hidup membaur dengan penduduk asli (pribumi)bahkan mereka mulai merubah nama-nama etnis cina menjadi nama khas Indonesia. hal ini dimaksudkan untuk mempermudah segala urusan mereka.itulah yang disebut dengan kata sejodho.Dan yang dimaksud dengan wong Djowo tinggal separo yaitu; bahwa penduduk Indonesia separohnya suku jawa.
3.Mengko Tanah Djawa bakal dikalungi wesi (kelak tanah jawa akan dikalungi besi); ini terbukti ketika Bangasa Belanda membangun jalan kereta api: dari Banten ke Jakarta - Semarang - Surabaya. Jalur selatan Solo - Jogya - Banjar - Bandung - cikampek - dan Jakarta. Bentuk jalur kereta tersebut menggambarkan sebuah kalung; sehingga tanah jawa seperti berkalung besi karena jalur yang dibuat oleh bangsa Belanda berputar.

A.Ramalan Satria pitu Joyoboyo

Joyoboyo yang hidup di zaman Majapahit pernah meramalkan bahwa nusantara ini akan menjadi negri (negara) yang adil dan makmur, gemah ripah loh jinawi jika dipimpin oleh seorang Ksatrio; yaitu "Satrio Pinandhito silsilah wahyu tanpo Mahkuto" yaitu seorang pemimpin yang memiliki jiwa pinandhito / pendeta / resi saja yang akan memiliki jiwa kebijaksanaan sehingga tidak akan terjadi adanya pemberontakan atau kekacauan yang ditimbulkan karena ketidakadilan. Satrio Pinandhito adalah seorang ksatrio yang memiliki wisdum (wisdom?)atau kebijaksanaan yang selalu mengutamakan kebaikan, kebenaran bagi sesamanya, karena dia memiliki moralitas diatas rata-rata manusia biasa, salah satu kutipan dari ramalan Joyoboyo adalah tentang satria pitu (tujuh pemimpin) yang bakal menjadi pemimpin negara Jawa (baca: Indonesia)yaitu:
1.Satrio kinunjoro murbowiseso
2.Satrio mukti wibowo kesandhung kesampar
3.Satrio jinumput semelo atur gawe wirang
4.Satrio lelono topo ngrame wuto
5.Satrio piningit hamung tuwuh
6.satrio pinilih hamboyong pambukaning gapuro nggelar kloso tonpo nganglenggahi

Bangsa Indonesia sudah mengalami pergantian 7 kali kepemimpinan ini artinya bangsa Indonesia sudah 7 kali memiliki seorang pemimpin (Presiden) yaitu:

1.Presiden Soekarno yang digambarkan sebagai ksatria yang memiliki karakter satrio kinunjoro murbo wiseso yaitu ksatria yang selalu keluar masuk penjara (kinunjoro) yang murbo wiseso (memiliki pengetahuan dan kekuasaan yang besar).

2.Presiden Soeharto yang digambarkan sebagai ksatria memiliki karakter Mukti wibowo kesandung kesampar
yaitu seorang ksatria yang hidupnya enak (mukti) dan mempunyai wibawa seorang pemimpin (wibowo), akan tetapi dalam perjalanannya selalu kesandung kesampar yaitu penuh dengan rintangan, hambatan bahkan cercaan. Tentu kita masih ingat pada peristiwa lengsernya beliau dari jabatan Presiden; dimana chaos terjadi dimana-mana, keributan, penjarahan,pemerkosaan etnis china, dan hujatan serta makian datang dari berbagai lapisan masyarakat yang ditujukkan pada beliau dan keluarganya, juga orang-orang yang dulu pernah dekat bersamanya, dengan tuduhan korupsi uang negara,bahkan sampai sakit kemudian meninggalnya beliau, permasalahan tersebut tidak pernah selesai. Anaknya (Hutomo Mandala Putra) kemudian dipenjarakan karena terlibat pembunuhan Hakim Agung dan masih banyak lagi aib nya yang kemudian dibongkar dan dipermasalahkan. Hari tua beliau benar-benar kesandung kesampar. tragis.

3.Bj.Habibi
yang mempunyai karakter Satrio Jinumput Semelo Atur gawe wirang. yaitu seorang ksatria yang jinumput (diorbitkan)langsung oleh Soeharto, yang kemudian karena ketelodarannya telah meninggalkan bekas malu untuk diri dan bangsa Indonesia.Walaupun kekuasaannya tidak lama, tapi kebijakannya sempat membuat wirang, diataranya lepasnya Timor-Timur dari Indonesia.

4.Abdurrahman Wahid Abdurrahman Wahid (Gusdur) memiliki kekurangan, yaitu beliau tidak terlalu jelas melihat orang (wuto). pada masa kepemimpinan beliau, sering sekali mengadakan perjalanan keluar negri / lawatan yang beliau lakukan dalam rangka membangun kembali kepercayaan negara lain terhadap Indonesia.hal ini dilakukan untuk meyakinkan negara-negara tetangga yang sempat memboikot atau menutup gerbang persahabatan dengan Indonesia akibat peristiwa chaos jakarta pada saat lengsernya Soeharto. pada masa kepemimpinannya banyak sekali gebrakan yang kadang membuat orang merasa tidak mengerti,seperti membubarkan dan memerjer beberapa departemen,dan sebagainya. tindakan politik Gusdur ini kadang mengundang pro dan kontra dikalangan politisi lain. Gusdur jatuh dan lengser sebelum masa pemerintahannya habis.

5.Megawati Soekarno Putri karakter Megawati Soekarno Putri cocok dengan gambaran ramalan Joyoboyo yaitu; Satrio Piningit hamung tuwuh, yang artinya besar karena nama Bapaknya (Soekarno). hamung tuwuh artinya ikut menjadi besar namanya karena terwarisi oleh Bapaknya yaitu Presiden Soekarno.

6.Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pribadi beliau cocok dengan gambaran ksatrio ke enam pada ramalan Joyoboyo yaitu: Satrio pinilih hamboyong pambukaning gapuro nggelar kloso tonpo nganglenggahi.
Beliau seorang satrio pinilih, karena dipilih oleh rakyat secara langsung, melalui pemilu presiden. Dia banyak membuka persoalan akan tetapi tidak mampu menyelesaikannya secara maksimal.seperti pengadilan kasus korupsi yang tebang pilih,mengambangnya kasus BLBI, Permasalahan lumpur lapindo yang tidak pernah selesai dan masih banyak lagi kasus - kasus lain, yang tidak ditangani dengan baik, sehingga membuat rasa tidak puas untuk sebagian masyarakat (pambukaning gapuro nggelar kloso tanpo nganglenggahi.

Menurut ramalan Joyoboyo tersebut hanya ksatria ke pitu (ke tujuh) lah yang nanti akan membawa bangsa dan rakyat Indonesia hidup maksmur, gemah ripah loh jinawi, tidak kurang sandhang, papan, dan pangan, tentrem ayem, tanpa banyak persoalan yang timbul di masyarakat. Karakter satrio ke tujuh nanti yaitu karakter yang dimiliki oleh seorang Satrio Pinandhito; yaitu seorang satria yang mendapat wisdum atau kebijaksanaan diatas rata-rata manusia normal.
seorang presiden Pinandhitolah yang nanti bisa membawa bangsa Indonesia menjadi bangsa yang maju, tanpa korupsi dan kecurangan.


Read More
Related Posts with Thumbnails
Loading