google-site-verification=UZOJzgQVIWen0hhmMkzbFt_zhpkperI9dij4XvLIaW8 LATAR BELAKANG BUDAYA ISLAM google-site-verification=UZOJzgQVIWen0hhmMkzbFt_zhpkperI9dij4XvLIaW8 google-site-verification=UZOJzgQVIWen0hhmMkzbFt_zhpkperI9dij4XvLIaW8

01 Mei 2010

Home » » LATAR BELAKANG BUDAYA ISLAM

LATAR BELAKANG BUDAYA ISLAM

Arabia jaman pra-Islam
Iman Islalm menganggapnya sebagai penghujatan apabila ajaran Alqur’an maupun Muhammad dikatakan bersumber pada adat istiadat, budaya, dan kepercayaan jaman pra-Islam. Itu sebabnya orang-orang Muslim tidak pernah melakukan penelitian secara mendalam untuk mengetahui apa yang dimaksudkan dengan Arabia jaman pra-Islam.
Ahli-ahli Barat sajalah yang mengungkap sejarah masa lalu untuk menemukan sumber-sumber budaya dan kesusasteraan yang dimanfaatkan Muhammad dalam membangun agamanya dan juga Alquran itu sendiri. Itulah sebabnya mengapa setiap referensi dari Barat mengenai agama Islam selalu dimulai dengan suatu pendahuluan menceritakan Arab di masa pra-Islam dan pengaruhnya terhadap pengajaran dan ritus-ritus keagamaan yand dianut Muhammad.
Latar belakang sejarah Islam tidak dapat diabaikan. Jikalau sumber dan asal-usul Islam dapat ditelusuri dan ditemukan dalam kepercayaan , adat-istiadat, dan budaya Arab jaman pra-Islam, berarti doktrin-doktrin yang menyatakan bahwa keimanan Muhammad dan Alquran yang diturunkan langsung (dari surga dan tidak berasal dari dunia dan tangan-tangan manusia) adalah menjadi doktrin yang bermasalah.

Alasan Yang Berputar-putar
(Circular Reasoning)
Umat Islam seringkali berargumentasi dengan menggunakan jalan berpikir berputar-putar. Mereka berdalih bahwa Islam dan Al-quran diturunkan langsung dari surga, sehingga tidak mungkin ada sumber-sumber atau bahan-bahan duniawi yang dapat digunakan untuk mengkonstruksinya. Mereka selalu berasumsi demikian.
Namun para cendekiawan Barat tidak dapat menerima asumsi yang dilakukan sekenanya saja. Karena sebagaimana yang kita lihat, iman Islam dan Al-quran sendiri dapat dilihat secara lengkap dan sempurna dalam lingkup kepercayaan, adat-istiadat, dan budaya Arab di jaman pra-Islam.
Perhatian khusus akan diberikan pada hasil karya awal yang ditulis oleh Julius Wellhausen, Theodor Noldeke, Joseph Halevy, Bell, J. Arberry, Wendell Phillips, W. Montgomery Watt, Alfred Guillaume, dan Arthur Jeffery. Penelitian linguistic dan arkeologi yang dilakukan sejak pertengahan ke dua abad 19 telah mengungkapkan banyak bukti bahwa Muhammad mengkosnstruksi agamanya dan Al-quran dengan mengambil bahan-bahan yang berasal dari budaya Arab.

Makna Islam
Sebagai contoh awal, kata “Islam” tidaklah diwahyukan dari surga atau diciptakan oleh Muhammad. Kata itu adalah kata Arab yang aslinya merujuk kepada sifat kejantanan dan mendiskripsikan seseorang yang gagah berani dan jantan dalam pertempuran. Dr. M. Bravmann, seorang sarjana dan ahli mengenai Timur Tengah, mendokumentasikan hasil kerjanya yang sangat mengagumkan, dalam bukunya yang berjudul “The Spiritual Background of Early Islam”
Islam asalnya merupakan konsep sekuler yang menunjukkan suatu budi luhur dalam pandangan orang Arab primitive; berani menantang maut, kepahlawanan; siap mati dalam pertempuran.
Kata “Islam “ semula sebetulnya, bukan berarti”kepatuhan”atau “berserah-diri” sebagaimana yang dikira banyak orang. Sebaliknya, kata itu berarti kekuatan yang menjadi ciri pejuang padang pasir yang akan bertempur sampai mati buat suku bangsanya kalau mereka menghadapi rintangan yang tidak mungkin diterobos sekalipun. Kata islam baru kemudian secara perlahan-lahan mengalami perubahan arti yaitu menjadi kepatuhan, tuduk, seperti yang didemonstrasikan oleh: Dr. Jane Smith di Universitas Harvard.

Kehidupan Ksekuan Jaman Pra-Islam
Aspek masyarakat kesukuan pada jaman Arab pra-Islam menjadi acuan dari banyak hal yang dapat ditemukan dalam Islam masa kini. Misalnya, adalah sesuai dengan moral Arab pada waktu itu mebenarkan suku yang satu melakukan penyerangan kepada suku-suku lain dengan tujuan untuk memperoleh kekayaan, istri-istri dan budak-budak, sehingga mengakibatkan suku-suku di sana secara terus-menerus berperang antar mereka sendiri.
Suku-suku padang pasir hidup dengan menganut aturan “mata ganti mata, gigi ganti gigi”. Pembalasan selalu dicanangkan bilamana ada perbuaan yang menyakiti salah satu anggota dari suatu suku.
System hukum yang kejam tersebut diikuti oleh suku-suku Arab pengembara. Bagi mereka memotong tangan kanan, kaki atau kepala seseorang merupakan hal yang wajar-wajar saja, tidak ada masalah. Lidah dapat dipotong, telinga dipotong, bahkan mata dicungkil sebagai hukuman atas berbagai kejahatan.
Tindakan membokong seseorang dan menggorok leher dan mengirisnya dari telinga satu ketelinga lain, dipandang sebagai perbuatan yang benar dalam situasi tertentu. Dan algojo yang melakukannya dipandang sebagai pahlawan.
Memaksa orang menjadi budak atau menculik para wanita dan membawamereka ke dalam harem (selir), serta memperkosa mereka, semuanya dianggap patut-patut saja. Keadaan dan kondisi Arab yang keras menciptakan masyarakat kesukuan yang keras pula di mana tindakan kekerasan menjadi normanya. Dan kekerasan masih merupakan attribute dalam masyarakat Islam.

Sebuah Contoh di Alam Modern ini
Pengenaan fatwa mati yang mengenaskan bagi Salman Rusdhie adalah contoh dari tindakan kekerasan Arab yang dilakukan di alam modern ini.
Dihukum mati karena menulis sebuah buku yanb mengungkapkan hal-hal yang tidak menguntungkan Muhammad, merupakan sesuatu yang tidak bisa dipahami atau ditoleransi masayarkat Barat. Namun bagi orang Muslim Arab, hal itu sangat masuk akal. Doctor William Montgomery Watt dari Universitas Edinburgh menyatakan:

“Perlu dikatakan bahwa orang-orang Arab tidak beranggapan bahwa membunuh seseorang adalah merupakan sesuatu yang salah pada hakekatnya. Perbuatan itu baru disebut salah kalau orang tersebut adalah anggota dari keluarga besar atau keompok persekutuannya, karena dalam Islam ini berarti pembunuhan terhadap sesama orang beriman”.

Rasa takut kepada pembalasan dendam juga akan membuat orang tidak membunuh salah satu anggota dari suku yang kuat. Namun dalam kasus lain tidak ada alas an untuk melarang membunuh.
Di Amerika Serikat, pergerakan masyarakat Muslim berkulit hitam mencatat suatu riwayat tindak kekerasan yang tidak terpuji. Tindak kekerasan tersebut termasuk membunuh para pemimpin mereka sendiri.

Pembunuhan
Sungguh menarik untuk menyimak bahwa kata dalam bahasa Inggris “assassin”, sesungguhnya terambil dari bahasa Arab. Bahasa inggris mengambil kata itu dari bahasa latin “assassinus”. Bahasa Latin mengambilnya dari bahasa Arab “hashshashin”. Dalam bahasa Arab kata hashshashin secara literal berarti “orang yang menghisap ganja” dan digunakan untuk mendiskripsikan orang-orang muslim yang menghisap ganja yang merangsang mereka hingga “mabok-religius” sebelum mereka melakukan pembunuhan atas musuh-musuh mereka.
Kata tersebut masuk kedalam khasanah perbendaharaan kata-kata bahasa Eropa melalui suatu Sekte Muslim yang menamakan diri mereka “Kelompok Assassins” yaitu kelompok yang meyakini bahwa Allah memanggil mereka untuk membunuh orang-orang sebagai suatu tugas suci.
“Kelompok Assassin menteror Timur Tengah dari abad ke-11 sampai abad ke-13 sesudah Masehi dan bahkan membuat Marcopolo, seorang penjelajah Barat, sampai merasa takut akan hidupnya.
(next published))))).

Related Post



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Tulis Komentar anda di sini

Related Posts with Thumbnails
Loading